10 Tips Agar Anak Hobi Membaca

Kita semua tahu bahwa buku adalah jendela dunia. Mengajarkan anak senang membaca buku berarti kita telah membukakan dunia untuk mereka. Dengan membaca mereka bisa mendapatkan wawasan, pengetahuan dan pengalaman baru.

Tetapi kita tahu bahwa anak-anak cenderung memilih kegiatan yang menyenangkan dan menggembirakan dibandingkan membaca, padahal membaca adalah kegiatan yang dapat menambah wawasan dan ilmu pada anak nantinya. Tetapi kalau kita dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan menggembirakan maka mereka akan bersemangat untuk memulai kegiatan tersebut.

Penulis buku anak terkenal, Peter Corey, menyarankan salah satu kunci sukses agar suasana kegiatan membaca dapat menyenangkan adalah bacalah bersama-sama dengan anak Anda. Membaca bersama si kecil adalah kegiatan yang positif dan edukatif, karena kegiatan tersebut dapat meningkatkan minat baca anak Anda.

Peter Corey juga memberikan tips lainnya untuk meningkatkan minat baca untuk Anak  yaitu:

1. Kegiatan membaca bersama lebih efektif bila dilakukan 10-15 menit setiap harinya. Bila Anda tidak menemukan waktu yang tepat selama satu hari penuh, maka manfaatkanlah waktu sebelum tidur untuk membaca bersama buah hati Anda.

2. Membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan, jadi hindari memaksakan anak untuk membaca saat si kecil lelah dikarenakan banyak kegiatan. Biarkan ia memiliki inisiatif untuk memulai membaca.

3. Setelah kegiatan membaca selesai, sebaiknya gunakan waktu untuk si kecil memberikan pendapat, kesan, ide tentang cerita tersebut dan dengarkan apa yang diutarakannya kemudian diskusikan. Dengan begitu Anda dapat mengetahui apakah ia mengerti isi buku yang ia baca.

4. Gunakanlah fasilitas yang mendukung cerita, seperti nikmati setiap gambar pada buku cerita tersebut. Anak akan lebih mudah mendapatkan pemahaman dengan bantuan gambar.

5. Selalu memilih cerita yang sederhana, lucu dan menarik untuk anak. Bila perlu pilihlah buku cerita yang menjadi tema kesukaannya.

6. Tema cerita buku anak-anak sangat beragam. Jadi belilah buku tersebut di toko buku bagian khusus anak agar dapat menemukan tema cerita yang menarik.

7. Sederhanakanlah penggunaan kata-kata yang Anda ucapkan. Hindari membacakan kalimat yang panjang dan sulit dimengeri anak. Bila anak Anda tidak paham dengan alur cerita, maka gunakan bahasa sehari-hari yang lebih mudah dimengerti.

8. Jangan ragu untuk menilai buku dari sampul dan siapa penulisnya. Ini dapat menolong Anda untuk memutuskan apakah buku tersebut layak Anda beli.

9. Jangan khawatir jika anak Anda ingin membaca buku yang sama setiap saat. Anak-anak biasanya menikmati kegiatan pengulangan karena dapat membantu mereka untuk lebih memahami cerita.

10. Berikanlah pujian kepada anak Anda yang telah berusaha untuk membaca. Biarkan ia tahu apa kesalahannya saat membaca. Dengan begitu, ia akan semakin sempurna dalam membaca

Untuk keberhasilan membuat anak suka membaca semua kembali kepada orang tua masing-masing, tergantung bagaimana kedisiplinan orang tua dalam menerapkan langkah-langkah tersebut. Disamping itu, dari 10 tips ini harus dilakukan secara simultan agar hasil yang dicapai lebih maksimal.

(Dari Beberapa Sumber)

http://ghiboo.com/assets/modules/article/images/big/anak-baca-buku-400-4d872758b6246.jpg

Tips Cerdas Mengajarkan Anak Dua Bahasa

Umur berapa sebaiknya mulai mengajarkan bahasa inggris kepada anak? Apabila ada 2 bahasa yang diajarkan, apakah dapat menghambat perkembangan bicaranya? Beberapa pertanyaan tersebut seringkali muncul dari orang tua yang berkeinginan (membekali) anaknya dapat lebih dini mengenal bahasa Inggris.

Perangsangan bahasa inggris atau bahasa asing lainnya dapat dilakukan sejak dini. Karena dalam 3 tahun pertama kehidupan manusia merupakan masa penyerapan terbesar terhadap stimulasi apapun. Jadi, tidak ada batasan umur untuk mengenalkan bahasa asing kepada anak. Agar keterampilan anak berbahasa asing lancar, berikut ini diuraikan beberapa tips mengenai hal tersebut:

1. Ciptakan suasana yang menyenangkan dan bebas dari paksaan agar memudahkan anak menguasai bahasa asing.

 2. Penguasaan bahasa apapun akan optimal jika bahasa tersebut dipergunakan sehari-hari. Seorang anak akan menyerap kemampuan berbahasa asing jika banyak berlatih.

3. Jika putra-putri Anda sehari-hari diasuh oleh neneknya atau pengasuh yang berbahasa Indonesia, tidak akan menjadi halangan, asalkan ketika berjumpa dengan Anda dan pasangan, Anda berdua konsisten berkomunikasi dalam bahasa inggris bersama si kecil. Hal ini tentunya akan menguntungkan, karena putra Anda akan memperoleh perangsangan 2 bahasa sekaligus.

4. Tahap selanjutnya adalah memasukan/mengikutkan si kecil pada kursus pelatihan bahasa untuk usia dini. Usahakan untuk memilih pengajar yang berasal dari luar negeri (native speaker). Hal ini akan turut melatih keberanian si kecil, untuk berbicara atau setidaknya memulai pembicaraan dengan orang asing. Karena dalam berlatih bahasa asing, benar atau salah adalah nomor dua, yang pertama adalah keberanian untuk salah.

5. Sediakan alat bantu seperti buku, mainan, CD atau DVD berbahasa inggris sehingga anak dapat selalu berinteraksi dengan B.Inggris.

Nabiku idolaku adalah buku cerita dua bahasa (B. Indonesia dan B. Inggris) yang dilengkapi dengan Smart E-Pen. Dengan Smart E-Pen yang bisa membacakan buku untuk anak, maka anak akan dibantu mengucapkan kata dalam B.Inggris yang benar. Selain itu  isinya yang menceritakan kisah para rasul dan tokoh dalam Al Qur’an juga bisa membantu anak mengetahui dan mencontoh karakter terbaik yang patut mereka teladani.

Referensi :

http://tipsanda.com/2008/12/30/tips-cerdas-mengajarkan-anak-dua-bahasa/

Golden age atau masa keemasan

Apa itu golden age (masa keemasan) ?

Golden Age atau masa keemasan, adalah  “masa-masa penting anak yang tidak bisa diulang”. Beberapa pakar menyebutkan sedikit perbedaan tentang rentang waktu masa golde age, yaitu 0-2 th, 0-3 th, 0-5 th atau 0-8 th, namun semuanya sepakat bahwa awal-awal tahun pertama kehidupan anak adalah masa-masa emas mereka.Pada masa-masa ini, kemampuan otak anak untuk menyerap informasi sangat tinggi. Apapun informasi yang diberikan akan berdampak bagi si anak di kemudian hari.

Di masa-masa inilah, peran orang tua dituntut untuk bisa mendidik dan mengoptimalkan kecerdasan anak baik secara intelektual, emosional dan spriritual.

Usia tersebut merupakan waktu yang ideal bagi anak untuk mempelajari berbagai macam keterampilan, membentuk kebiasaan-kebiasaan yang akan berpengaruh pada masa-masa kehidupan selanjutnya, dan memperoleh konsep-konsep dasar untuk memahami diri dan lingkungan sekitar.

Agar masa keemasan ini termanfaatkan secara optimal, maka orangtua diharapkan dapat melakukan proses pengasuhan dan pendidikan dengan cara yang optimal pula. Selain kemampuan dan pengetahuan, orangtua juga memerlukan media pendukung untuk membantu proses tersebut.

Berikut ini adalah tips dalam memberikan stimulasi/rangsangan anak pada masa golden age guna mengoptimalkan kecerdasan mereka:

1. Stimulasi yang Anda berikan bisa berupa pengalaman di alam terbuka. Untuk anak-anak pengamatan mereka akan alam sangat detil. Anak-anak biasanya akan belajar banyak dengan hanya mengamati. Orang tua bisa bercerita tetang alam dan binatang. Jawablah pertanyaan anak dengan bahasa mereka yang sederhana. Dan lebih banyak ajukan pertanyaan untuk menggugah rasa ingin tahu anak.

2. Anak juga belajar dengan mengamati dan meniru Anda. Maka sebagai orang tua Anda bisa menstimulasi mereka dengan menjadi teladan anak. Kalau Anda senang membaca, kemungkinan besar anak pun akan demikian.

 3. Jangan berikan target, tetapi hargailah anak atas usahanya. Kalau anak diberi standar-standar harus bisa membaca pada usia sekian, anak harus pandai membaca, maka anak akan mati-matian menyenangkan orang tuanya walaupun hati mereka tidak bahagia.

4. Pujilah mereka atas usahanya. Berikan mereka penghargaan atas usaha yang telah mereka berikan dengan hal yang bermanfaat, misalnya dengan mengajak mereka jalan-jalan ke toko buku, taman pintar, water boom dan lain-lain.

5. Berikan mainan yang bermanfaat bagi perkembangan keterampilan anak seusia mereka. Berilah mereka kasih sayang dan rasa aman sehingga mereka pun akan sanggup memberi kasih sayang pada sesamanya. Di masa golden age, jika peran orang tua membahagiakan dalam kehidupan mereka, memori ini akan terkenang selamanya dan membawa pengaruh positif di kehidupan dewasa mereka kelak.

Buku seri Halo Balita adalah salah satu media pendukung untuk mengoptimalkan proses pendidikan dan pengasuhan pada masa keemasan balita. Cerita-cerita pada buku ini dirancang khusus untuk mendorong anak dalam membentuk sikap mandiri serta mengenal nilai moral dan spiritual. Elemen-elemen pada buku ini juga dirancang untuk membantu mengembangkan berbagai potensi balita Anda.
–Dr. Juke R. Siregar, M.Pd.–
(dalam Halo Balita-Panduan untuk Ayah dan Ibu)

Referensi :

http://tipsanda.com/2009/02/07/tips-memberi-stimulasi-anak-di-masa-golden-age/

Perebutan Masa Golden Age Diantara Madzhab Pendidikan

Masa balita, dengan istilah “golden age” memang menjadi perebutan para ahli pendidikan dalam menanamkan “apa yang seharusnya” menjadi bekal awal seorang manusia untuk kelak meniti hidupnya. Pengikut mazhab kreativitas tentu saja mengutamakan perkembangan berfikir kreatif sebagai sesuatu yang wajib ditangani pada masa ini.
Pengikut mazhab “sains” mengutamakan mengajarkan sains sejak dini.
Penganut mazhab “multiple intelligence” mengutamakan keseimbangan unsur-unsur kecerdasan tersebut pada diri anak.

Dan di lembaga kami, kami menganut mazhab akhlaq qurani, budi pekerti yang mulia (akhlaqul karimah), jadi konsen kami adalah menanamkan akhlaqul karimah (tentu saja berdasar tuntunan Al Quran) sejak dini kepada anak.

Setiap orang tua tentu saja ingin yang terbaik untuk anaknya. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya menjadi orang yang lebih baik dari dirinya pribadi? Yang menarik adalah ketika orang tua memiliki keinginan yang terlalu tinggi. Dijejalkanlah semua yang ada di kawah candradimuka les untuk anaknya. Dan lupa bahwa anak juga manusia, bukan manusia super. Banyak anak yang mengeluh bahwa waktunya habis tandas untuk les ini-itu dan tak ada waktu belajar. Bahkan, penulis pribadi pernah mendengar, bahwa ada anak di kelas 6, terkena stroke ringan, dengan keterangan dari dokter, bahwa otaknya telah terlanda kelelahan (plus gaya makan yang modern aka terlalu banyak lemak).

Tapi, mari kita berbicara tentang prioritas. Apakah keinginan yang tertinggi dalam hati kita? Anak menjadi orang yang baik? Atau yang lainnya? Semua itu memang baik buat anak.. tapi mari kita renungkan…

Bila kita memprioritaskan sains maka tujuannya adalah menjadikan anak saintis y jenius
Bila kita memprioritaskan seni, maka tujuannya adalah menjadikan anak seniman y kreatif
Bila kita memprioritaskan multiple intelegence maka tujuannya menjadikan anak yang cerdas
Bila kita memprioritaskan hafalan kitab suci (bacaannya saja) maka tujuannya jadi anak hafiz (tanpa kita peduli apakah anak tahu artinya atau tidak)
Nah sekarang giliran kami bertanya. Adakah saintis, org cerdas, seniman, dan pedalil/penghafal yang jahat?
Ya. Ada dokter yang malpraktek, ada pencipta rudal pemusnah massal, banyak pemain band yang ngobat, dan banyak orang yang menggunakan kitab suci untuk kepentingannya sendiri.

Apabila tujuan anda mengenalkan itu sejak dini untuk mengenal Tuhannya, Adakah saintis, orang cerdas, seniman, dan pedalil yang tidak mengenal Tuhan?

Ya. Banyak saintis yang malah menolak keberadaan Tuhan dengan penemuannya, banyak seniman yang memiliki ‘agama’ sendiri. Kalau pedalil sih, tidak menolak, paling parah mengaku Rasul, atau menafsirkan kitab suci untuk kepentingannya sendiri.

Nah, relakah anda bila anak anda jenius, kreatif, cerdas, hafal kitab suci misalnya, akan tetapi berwatak jahat? Relakah anda bila anak anda jenius, kreatif, akan tetapi jauh dari Tuhan, bahkan menolak keberadaan-Nya?

Tentu itu adalah sebuah pilihan. Hanya saja, kami yakin bahwa semua orang tua yang baik, menginginkan anaknya menjadi orang yang baik.
Seandainya anak dididik dengan akhlaq yang baik, akhlaq al Quran (atau akhlaq baik menurut agama masing2), maka tujuannya adalah menjadi anak yang berkelakuan baik.
Dia mungkin tidak akan jadi ilmuwan, bahkan bisa jadi bodoh, tapi bila berilmu dia takkan menggunakan ilmunya untuk kejahatan, dan bila bodoh, dia takkan bisa dipengaruhi untuk berbuat jahat.
Dia mungkin takkan mengerti seni, tapi bisa memilih baik dan buruk
Dia mungkin takkan hafal 30 juz, tapi mengerti dan mencintai al Quran (atau kitab suci anda sendiri)

Nah.. silahkan anda pilih sendiri, akan diisi dengan apa, golden age anak anda.

Sumber :

http://rumahquraani.blogspot.com/2010/10/perebutan-masa-golden-age-diantara.html

http://pelangibuku.blogspot.com/2010/11/perebutan-masa-golden-age-diantara.html

Untuk informasi pelatihan dan metoda, hubungi FB Rumah Qurani