Golden age atau masa keemasan

Apa itu golden age (masa keemasan) ?

Golden Age atau masa keemasan, adalah  “masa-masa penting anak yang tidak bisa diulang”. Beberapa pakar menyebutkan sedikit perbedaan tentang rentang waktu masa golde age, yaitu 0-2 th, 0-3 th, 0-5 th atau 0-8 th, namun semuanya sepakat bahwa awal-awal tahun pertama kehidupan anak adalah masa-masa emas mereka.Pada masa-masa ini, kemampuan otak anak untuk menyerap informasi sangat tinggi. Apapun informasi yang diberikan akan berdampak bagi si anak di kemudian hari.

Di masa-masa inilah, peran orang tua dituntut untuk bisa mendidik dan mengoptimalkan kecerdasan anak baik secara intelektual, emosional dan spriritual.

Usia tersebut merupakan waktu yang ideal bagi anak untuk mempelajari berbagai macam keterampilan, membentuk kebiasaan-kebiasaan yang akan berpengaruh pada masa-masa kehidupan selanjutnya, dan memperoleh konsep-konsep dasar untuk memahami diri dan lingkungan sekitar.

Agar masa keemasan ini termanfaatkan secara optimal, maka orangtua diharapkan dapat melakukan proses pengasuhan dan pendidikan dengan cara yang optimal pula. Selain kemampuan dan pengetahuan, orangtua juga memerlukan media pendukung untuk membantu proses tersebut.

Berikut ini adalah tips dalam memberikan stimulasi/rangsangan anak pada masa golden age guna mengoptimalkan kecerdasan mereka:

1. Stimulasi yang Anda berikan bisa berupa pengalaman di alam terbuka. Untuk anak-anak pengamatan mereka akan alam sangat detil. Anak-anak biasanya akan belajar banyak dengan hanya mengamati. Orang tua bisa bercerita tetang alam dan binatang. Jawablah pertanyaan anak dengan bahasa mereka yang sederhana. Dan lebih banyak ajukan pertanyaan untuk menggugah rasa ingin tahu anak.

2. Anak juga belajar dengan mengamati dan meniru Anda. Maka sebagai orang tua Anda bisa menstimulasi mereka dengan menjadi teladan anak. Kalau Anda senang membaca, kemungkinan besar anak pun akan demikian.

 3. Jangan berikan target, tetapi hargailah anak atas usahanya. Kalau anak diberi standar-standar harus bisa membaca pada usia sekian, anak harus pandai membaca, maka anak akan mati-matian menyenangkan orang tuanya walaupun hati mereka tidak bahagia.

4. Pujilah mereka atas usahanya. Berikan mereka penghargaan atas usaha yang telah mereka berikan dengan hal yang bermanfaat, misalnya dengan mengajak mereka jalan-jalan ke toko buku, taman pintar, water boom dan lain-lain.

5. Berikan mainan yang bermanfaat bagi perkembangan keterampilan anak seusia mereka. Berilah mereka kasih sayang dan rasa aman sehingga mereka pun akan sanggup memberi kasih sayang pada sesamanya. Di masa golden age, jika peran orang tua membahagiakan dalam kehidupan mereka, memori ini akan terkenang selamanya dan membawa pengaruh positif di kehidupan dewasa mereka kelak.

Buku seri Halo Balita adalah salah satu media pendukung untuk mengoptimalkan proses pendidikan dan pengasuhan pada masa keemasan balita. Cerita-cerita pada buku ini dirancang khusus untuk mendorong anak dalam membentuk sikap mandiri serta mengenal nilai moral dan spiritual. Elemen-elemen pada buku ini juga dirancang untuk membantu mengembangkan berbagai potensi balita Anda.
–Dr. Juke R. Siregar, M.Pd.–
(dalam Halo Balita-Panduan untuk Ayah dan Ibu)

Referensi :

http://tipsanda.com/2009/02/07/tips-memberi-stimulasi-anak-di-masa-golden-age/

Perebutan Masa Golden Age Diantara Madzhab Pendidikan

Masa balita, dengan istilah “golden age” memang menjadi perebutan para ahli pendidikan dalam menanamkan “apa yang seharusnya” menjadi bekal awal seorang manusia untuk kelak meniti hidupnya. Pengikut mazhab kreativitas tentu saja mengutamakan perkembangan berfikir kreatif sebagai sesuatu yang wajib ditangani pada masa ini.
Pengikut mazhab “sains” mengutamakan mengajarkan sains sejak dini.
Penganut mazhab “multiple intelligence” mengutamakan keseimbangan unsur-unsur kecerdasan tersebut pada diri anak.

Dan di lembaga kami, kami menganut mazhab akhlaq qurani, budi pekerti yang mulia (akhlaqul karimah), jadi konsen kami adalah menanamkan akhlaqul karimah (tentu saja berdasar tuntunan Al Quran) sejak dini kepada anak.

Setiap orang tua tentu saja ingin yang terbaik untuk anaknya. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya menjadi orang yang lebih baik dari dirinya pribadi? Yang menarik adalah ketika orang tua memiliki keinginan yang terlalu tinggi. Dijejalkanlah semua yang ada di kawah candradimuka les untuk anaknya. Dan lupa bahwa anak juga manusia, bukan manusia super. Banyak anak yang mengeluh bahwa waktunya habis tandas untuk les ini-itu dan tak ada waktu belajar. Bahkan, penulis pribadi pernah mendengar, bahwa ada anak di kelas 6, terkena stroke ringan, dengan keterangan dari dokter, bahwa otaknya telah terlanda kelelahan (plus gaya makan yang modern aka terlalu banyak lemak).

Tapi, mari kita berbicara tentang prioritas. Apakah keinginan yang tertinggi dalam hati kita? Anak menjadi orang yang baik? Atau yang lainnya? Semua itu memang baik buat anak.. tapi mari kita renungkan…

Bila kita memprioritaskan sains maka tujuannya adalah menjadikan anak saintis y jenius
Bila kita memprioritaskan seni, maka tujuannya adalah menjadikan anak seniman y kreatif
Bila kita memprioritaskan multiple intelegence maka tujuannya menjadikan anak yang cerdas
Bila kita memprioritaskan hafalan kitab suci (bacaannya saja) maka tujuannya jadi anak hafiz (tanpa kita peduli apakah anak tahu artinya atau tidak)
Nah sekarang giliran kami bertanya. Adakah saintis, org cerdas, seniman, dan pedalil/penghafal yang jahat?
Ya. Ada dokter yang malpraktek, ada pencipta rudal pemusnah massal, banyak pemain band yang ngobat, dan banyak orang yang menggunakan kitab suci untuk kepentingannya sendiri.

Apabila tujuan anda mengenalkan itu sejak dini untuk mengenal Tuhannya, Adakah saintis, orang cerdas, seniman, dan pedalil yang tidak mengenal Tuhan?

Ya. Banyak saintis yang malah menolak keberadaan Tuhan dengan penemuannya, banyak seniman yang memiliki ‘agama’ sendiri. Kalau pedalil sih, tidak menolak, paling parah mengaku Rasul, atau menafsirkan kitab suci untuk kepentingannya sendiri.

Nah, relakah anda bila anak anda jenius, kreatif, cerdas, hafal kitab suci misalnya, akan tetapi berwatak jahat? Relakah anda bila anak anda jenius, kreatif, akan tetapi jauh dari Tuhan, bahkan menolak keberadaan-Nya?

Tentu itu adalah sebuah pilihan. Hanya saja, kami yakin bahwa semua orang tua yang baik, menginginkan anaknya menjadi orang yang baik.
Seandainya anak dididik dengan akhlaq yang baik, akhlaq al Quran (atau akhlaq baik menurut agama masing2), maka tujuannya adalah menjadi anak yang berkelakuan baik.
Dia mungkin tidak akan jadi ilmuwan, bahkan bisa jadi bodoh, tapi bila berilmu dia takkan menggunakan ilmunya untuk kejahatan, dan bila bodoh, dia takkan bisa dipengaruhi untuk berbuat jahat.
Dia mungkin takkan mengerti seni, tapi bisa memilih baik dan buruk
Dia mungkin takkan hafal 30 juz, tapi mengerti dan mencintai al Quran (atau kitab suci anda sendiri)

Nah.. silahkan anda pilih sendiri, akan diisi dengan apa, golden age anak anda.

Sumber :

http://rumahquraani.blogspot.com/2010/10/perebutan-masa-golden-age-diantara.html

http://pelangibuku.blogspot.com/2010/11/perebutan-masa-golden-age-diantara.html

Untuk informasi pelatihan dan metoda, hubungi FB Rumah Qurani

Menanam kesuksesan

Melihat nama anak muncul di pengumuman pemenang lomba, rasanya senaang sekali. Padahal baru babak penyisihan. Hasil itu didapat karena dia berhasil berlatih sebelumnya. Perasaan senang itu juga dirasakan anak, karena emosi itu menular. Anak kemudian dimotivasi untuk belajar lagi. Karena merasa senang, anak jadi semangat untuk belajar lagi mempersiapkan semifinal.

Jadi memang keberhasilan2 kecil itu perlu dibiasakan. Agar anak menjadi terpicu untuk berusaha menciptakan keberhasilan berikutnya. Salah satu caranya adalah dengan mengikutkan anak pada lomba berjenjang. Mulai penyisihan sampai final.

Bagaimana jika dia tidak menang? Apa akan mematikan motivasinya?
Tidak. Jika orang tua mengarahkannya ke sesuatu yg baik lainnya, misalnya bahwa ini pelajaran agar dia tidak sombong. Dan bahwa berarti upaya dia belum maksimal.

Bagaimana jika gak menang-menang ?
Coba turunkan levelnya. Mungkin ketinggian level ujian yg dia ikuti. Dia belum siap.

Ibaratnya menanam tanaman. Dimulai dari menabur benih yg sangat kecil. Benamkan ke tanah. Lalu siram setiap hari. Lama-lama dia akan tumbuh, berkembang dan akhirnya menghasilkan bunga.
Ibaratnya
ibaratnya