Perebutan Masa Golden Age Diantara Madzhab Pendidikan

Masa balita, dengan istilah “golden age” memang menjadi perebutan para ahli pendidikan dalam menanamkan “apa yang seharusnya” menjadi bekal awal seorang manusia untuk kelak meniti hidupnya. Pengikut mazhab kreativitas tentu saja mengutamakan perkembangan berfikir kreatif sebagai sesuatu yang wajib ditangani pada masa ini.
Pengikut mazhab “sains” mengutamakan mengajarkan sains sejak dini.
Penganut mazhab “multiple intelligence” mengutamakan keseimbangan unsur-unsur kecerdasan tersebut pada diri anak.

Dan di lembaga kami, kami menganut mazhab akhlaq qurani, budi pekerti yang mulia (akhlaqul karimah), jadi konsen kami adalah menanamkan akhlaqul karimah (tentu saja berdasar tuntunan Al Quran) sejak dini kepada anak.

Setiap orang tua tentu saja ingin yang terbaik untuk anaknya. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya menjadi orang yang lebih baik dari dirinya pribadi? Yang menarik adalah ketika orang tua memiliki keinginan yang terlalu tinggi. Dijejalkanlah semua yang ada di kawah candradimuka les untuk anaknya. Dan lupa bahwa anak juga manusia, bukan manusia super. Banyak anak yang mengeluh bahwa waktunya habis tandas untuk les ini-itu dan tak ada waktu belajar. Bahkan, penulis pribadi pernah mendengar, bahwa ada anak di kelas 6, terkena stroke ringan, dengan keterangan dari dokter, bahwa otaknya telah terlanda kelelahan (plus gaya makan yang modern aka terlalu banyak lemak).

Tapi, mari kita berbicara tentang prioritas. Apakah keinginan yang tertinggi dalam hati kita? Anak menjadi orang yang baik? Atau yang lainnya? Semua itu memang baik buat anak.. tapi mari kita renungkan…

Bila kita memprioritaskan sains maka tujuannya adalah menjadikan anak saintis y jenius
Bila kita memprioritaskan seni, maka tujuannya adalah menjadikan anak seniman y kreatif
Bila kita memprioritaskan multiple intelegence maka tujuannya menjadikan anak yang cerdas
Bila kita memprioritaskan hafalan kitab suci (bacaannya saja) maka tujuannya jadi anak hafiz (tanpa kita peduli apakah anak tahu artinya atau tidak)
Nah sekarang giliran kami bertanya. Adakah saintis, org cerdas, seniman, dan pedalil/penghafal yang jahat?
Ya. Ada dokter yang malpraktek, ada pencipta rudal pemusnah massal, banyak pemain band yang ngobat, dan banyak orang yang menggunakan kitab suci untuk kepentingannya sendiri.

Apabila tujuan anda mengenalkan itu sejak dini untuk mengenal Tuhannya, Adakah saintis, orang cerdas, seniman, dan pedalil yang tidak mengenal Tuhan?

Ya. Banyak saintis yang malah menolak keberadaan Tuhan dengan penemuannya, banyak seniman yang memiliki ‘agama’ sendiri. Kalau pedalil sih, tidak menolak, paling parah mengaku Rasul, atau menafsirkan kitab suci untuk kepentingannya sendiri.

Nah, relakah anda bila anak anda jenius, kreatif, cerdas, hafal kitab suci misalnya, akan tetapi berwatak jahat? Relakah anda bila anak anda jenius, kreatif, akan tetapi jauh dari Tuhan, bahkan menolak keberadaan-Nya?

Tentu itu adalah sebuah pilihan. Hanya saja, kami yakin bahwa semua orang tua yang baik, menginginkan anaknya menjadi orang yang baik.
Seandainya anak dididik dengan akhlaq yang baik, akhlaq al Quran (atau akhlaq baik menurut agama masing2), maka tujuannya adalah menjadi anak yang berkelakuan baik.
Dia mungkin tidak akan jadi ilmuwan, bahkan bisa jadi bodoh, tapi bila berilmu dia takkan menggunakan ilmunya untuk kejahatan, dan bila bodoh, dia takkan bisa dipengaruhi untuk berbuat jahat.
Dia mungkin takkan mengerti seni, tapi bisa memilih baik dan buruk
Dia mungkin takkan hafal 30 juz, tapi mengerti dan mencintai al Quran (atau kitab suci anda sendiri)

Nah.. silahkan anda pilih sendiri, akan diisi dengan apa, golden age anak anda.

Sumber :

http://rumahquraani.blogspot.com/2010/10/perebutan-masa-golden-age-diantara.html

http://pelangibuku.blogspot.com/2010/11/perebutan-masa-golden-age-diantara.html

Untuk informasi pelatihan dan metoda, hubungi FB Rumah Qurani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *